Semburat senja membentang di langit. Sepasang mata menatapnya penuh kerinduan. Rindu ingin menatapnya lebih lama. Jemari lembutnya masih menempel pada senar gitar. Rangkaian melodi telah ia mainkan penuh haru. Terlihat sisa tetesan air mata bersembunyi dari sudut matanya.
Duduk menatap sisa senja ditemani serangkaian melodi kenangan di padang ilalang. Lekuk pipinya kembali dilewati butiran air mata. Senyumnya masih tersemat manis. Ada sebaris kerinduan yang mendalam dari binar matanya. Hingga tatapan yang terpaku kokoh, seketika berkedip. Lelah menahan tangisnya yang menumpuk di pelupuk mata. Hatinya begitu sakit. Rindu yang menggema tak terapalkan, hanya tertahan di hatinya. Pertemuan tak ia dapat dalam nyata. Mungkin nanti, ketika Tuhan mengutus waktu untuk menyemaikan kerinduannya dalam pertemuan.
–
10 Oktober 2011
“Aku mencintaimu, Dani.” ucap Kanaya yang sempat ragu.
Sepasang mata menatapnya tak percaya. Nyaris kedua halisnya menyatu, mendengar pernyataan Kanaya. Sosok yang menatapnya lekat itu tak lain adalah Dani Wihandra, lelaki yang Kanaya cintai selama tiga tahun terakhir ini. Senyum khas perlahan tersemat di bibir Dani. Tatapan itu perlahan mengendur, hingga akhirnya menjauh dari hadapan Kanaya. Tak ada sebaris kalimat bahkan sepatah kata yang terapal dari mulut Dani. Hanya punggung Dani yang Kanaya lihat. Hingga perlahan menghilang dari pandangannya.
Kanaya berdiri mematung. Ia terdiam dalam kebisuannya. Hanya mata dan hatinya yang tak henti bekerja keras. Merasakan sakit hati dan rasa malu. Serta butir-butir kekecewaan jatuh secara bergantian. Hanya riuh teman-teman sekolahnya yang jelas terdengar di telinganya yang lambat laun terasa membeku, hingga seruan sahabatnya tak mampu terespon olehnya.
“Naya? Kau baik-baik saja?” seru Ranti menepuk bahu Kanaya dengan lembut.
“Eh, ya?” kejut Kanaya selang beberapa saat.
“Hei? Ada apa? Ayo gabung dengan yang lain. Ini kan acara perpisahan kita di SMA ini, kau tak mungkin menyia-nyiakan momen ini kan? Ayo?” ajak Ranti yang mulai mengamati sorot mata sahabatnya itu.
“Ah, sepertinya aku kurang enak badan. Aku harus cepat pulang, Ran,” balas Kanaya beralasan.
Tangan Ranti memegang erat pundak Kanaya. Ia mencermati mata yang mulai memerah itu. Sorot mata yang tak sanggup lagi menahan air mata. Satu pertanyaan pun mengalir dari mulut Ranti lewat lidahnya.
“Naya, jujur padaku. Kau tidak benar-benar menyatakan cinta pada Dani, kan?”
Kanaya melerai sentuhan di bahunya itu. Ia mengayunkan kakinya, melangkah menuju tempat yang jauh dari keramaian. Ia duduk di kursi yang tak jauh darinya. Kerlap-kerlip bintang menghiasi malam, bersama rembulan yang tak kalah menyala lewat biasnya. Jemari lentiknya mulai menyapu tetes air mata yang tak henti melaju dari sudut matanya.
“Kau tahu? Aku sangat terlihat bodoh saat berada di hadapannya,” tutur Kanaya pada Ranti yang duduk di sampingnya.
“Naya …” balas Ranti dengan tatapan sedih.
“Aku tak mengapa tak mendapat balasan darinya, tapi setidaknya aku mengerti arti dari senyumnya. Ia tak marah padaku. Mungkin aku akan kembali duduk dalam penantian dan berteman dengan waktu. Entah sampai kapan …” balasnya terdengar lemah.
“Naya, kau tunggu di sini. Aku akan mencari Dani dan menanyakan padanya tentang—” perkataan Ranti menggantung saat Kanaya menggenggam erat tangannya seraya menggelengkan kepala. “Kenapa?” lanjut Ranti heran.
Kanaya memeluk Ranti sebagai sandaran tangisnya. Pundak kiri Ranti mulai terasa basah. Air mata Kanaya membasahi kebaya Ranti di sekitar pundaknya. Ranti membalas pelukan itu. Mengusap punggung Kanaya, memberi kenyamanan atas kesedihan yang menimpa hati sahabatnya itu. Kanaya kembali pada posisinya semula. Ia kembali menghapus sisa air matanya. Sementara Ranti menatapnya penuh haru.
“Carilah pengganti Dani, aku tak mau melihat sahabatku terlalu lama dipermainkan waktu dalam penantian yang tak berujung ini. Kau pantas bahagia, kau pantas mendapatkan yang lebih dari Dani.”
“Tidak, Ran. Ketulusan cintaku tak akan kalah hanya karena permainan sang waktu yang kadang membuatku jatuh dalam rasa lelah. Dan bosan karena tak ada jawaban. Tiga tahun saja telah ku lewati, bila harus menanti tiga, empat bahkan lima tahun lagi, aku pasti mampu bertahan,”
“Tapi aku takut penantianmu ini sia-sia, Naya. Ayolah, sadar!”
“Dari mana aku tahu penantian ini sia-sia atau tidak, bila aku tak merasakan penantian ini secara utuh? Aku yakin dengan takdir dari Tuhan. Aku menantinya sampai saat ini, itu pasti sudah tertulis dalam suratan takdir. Tuhan tak akan membiarkan aku menjaga cinta ini, bila tak ada sebabnya. Aku tak akan membuka hati untuk yang lain, sampai Tuhan mempertemukanku dengan jodohku. Biarkan Dani yang sementara mengisi hati ini,”
Ranti memberi tatapan tak percaya. Bagaimana mungkin Kanaya mampu kembali menunggu Dani. Sebait pertanyaan menancap dalam benak Ranti atas jawaban sahabatnya itu.
“Apa yang membuatmu bertahan dalam penantian, Naya? Apa lebihnya Dani?” Tanya Ranti sedikit meninggikan suaranya.
Kanaya tersenyum menatap sahabatnya itu, hingga lesung pipi kirinya terlihat jelas. Hingga Ranti kembali berkata dengan argumennya.
“Coba kau lihat Rifky. Dia tampan, baik, dia juga mencintaimu, Naya. Kenapa kau memilih Dani? Aku tak habis pikir kau memilihnya,”
“Harta dan ketampanan hanyalah sebuah ilusi dan bersifat semu. Keduanya tak akan kekal. Tapi, agama. Dani membuatku bertahan karena agama. Dia sosok lelaki yang saleh. Setiap perkataannya dilandasi tentang agama. Itu yang membuat hatiku selalu bergetar. Dia berbeda dari lelaki kebanyakan,”
Ranti terdiam seakan takjub akan jawaban Kanaya. Jawaban yang mampu membuatnya bisu dalam obrolan. Perlahan air matanya terjatuh saat Kanaya memperlihatkan sebuh foto yang lusuh.
“Meski akhirnya jarak membuatku tak bisa bertemu dengannya, aku tak mengapa. Karena foto ini akan menjadi penawar rinduku. Bahkan meski air mata kerinduanku tumpah membasahi foto ini, senyum Dani tetap bisa ku lihat dalam ingatan.”
Malam itu menjadi saksi bisu atas curahan hati Kanaya tentang perasaanya pada Dani. Ia hanya mencintai Dani dalam diam selama duduk di bangku SMA. Kanaya begitu lihai menyembunyikan perasaannya hingga tak ada yang tahu bahwa ia mencintai Dani. Bahkan Ranti mengetahuinya karena ia tak sengaja membaca diari Kanaya. Hatinya mulai terkulum kesedihan. Bukan karena tak mendapat balasan, melainkan karena ia tak bisa melihat senyum Dani di setiap harinya kedepan. Tak akan ada lagi candaan yang ia dengar dari Dani, meski ia hanya mendengarnya dari kejauhan.
–
02 September 2015
Empat tahun sudah Kanaya duduk dalam penantian. Ia masih menyimpan cinta yang sama, cinta tulusnya pada Dani. Hingga kini ia duduk di padang ilalang dengan sebuah gitar yang setia menemaninya. Ia menatap senja penuh kerinduan. Kerinduan pada Dani.
Kesendiriannya tak menjadi sebuah kesedihan untuknya. Pekerjaannya sebagai seorang editor di sebuah situs menulis, menjadi pengisi hidupnya. Ribuan cerpen telah menemaninya beberapa tahun terakhir ini. Ia tetap tersenyum menapaki alur hidupnya. Ia menyerahkan kisah cintanya pada yang kuasa. Hatinya yakin, Tuhan akan memberikannya jawaban yang terbaik dari penantiannya.
“Dani, empat tahun sudah aku menantimu sejak hari itu. Hari di saat kau mendengar isi hatiku. Apa kau sudah bahagia di sana? Aku tahu cita-citamu tercapai. Aku bahagia mendengarnya. Andai Tuhan memberi jawaban dari penantian ini, apa aku harus bertahan atau menyerah pada keadaan?” Kanaya tertunduk memeluk gitarnya, mencurahkan isi hatinya lewat tiap tetesan air mata.
“Nyanyikan satu lagu untukku, Nona.” seru seseorang yang baru saja duduk di samping Kanaya.
“Maaf, aku sedang tak ingin menyanyi.” Jawab Kanaya.
Sejenak Kanaya terdiam. Ia menyadari kehadiran sosok yang duduk di sampingnya. Ia sangat hafal bahwa tak ada orang yang datang ke padang ilalang ini setiap sore, selain dirinya. Segera ia mengangkat kepala dan mengarahkan tatapan pada sosok yang mengganggu tangisannya.
Hatinya berdegup cepat. Air matanya kembali terurai. Namun senyum manisnya terlihat melengkapi. Kanaya menatap lekat-lekat sosok itu. Begitu ingin ia memeluknya, namun ia sadar akan kenyataan.
“Dani?” lirihnya.
“Ya, ini aku Dani. Ternyata kau masih mengenaliku.” Sahut Dani dengan menyuguhkan senyuman khasnya.
Kanaya menatap lekat mata Dani yang terhalang lensa berlapis itu. Sebuah kacamata yang begitu pas dipakainya. Kacamata yang menjadi ciri khasnya sejak SMA. Menambah karismanya.
“Aku mencarimu. Kata Ibumu, kau selau pergi ke padang ilalang dengan gitar kesayanganmu itu,”
Kanaya tersenyum bahagia. Baru kali ini ia dapat mendengar jelas suara Dani. Ia tak peduli jika ini hanya mimpi. Ia hanya bersyukur dapat melihat Dani.
“Kau mencariku? Untuk apa?”
“Untuk menjawab penantianmu,”
“Maksudmu?”
“Aku tahu selama ini kau menantiku dengan setia. Sejak kau menyatakan perasaanmu di acara perpisahan SMA, aku mulai mempertimbangkannya. Aku diam karena aku tak ingin memberi jawaban yang salah. Aku belum menjadi siapa-siapa, dalam arti jauh dari kata mapan. Aku baru memulai hidup. Dan sekarang aku tak akan membiarkanmu akhirnya tenggelam dalam penantian,”
Jantung Kanaya semakin berdegup cepat. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Perlahan ia mencubit punggung tangannya. Ia meringis sakit. Saat itu pula ia sadar, ini adalah kenyataaan.
“Naya. Biarkan aku akhiri penantianmu dengan sebuah kepastian,”
“Katakanlah dengan jujur. Sekalipun akhirnya itu menyakitkan,”
“Tentu. Alasanku membuatmu menanti, karena aku ingin memilikimu dalam ikatan yang suci. Saat Tuhan memberi petunjuknya lewat ibadahku, aku pun kini yakin, kaulah pilihanNya. Apa kau bersedia bersanding denganku, menjadi pelengkap hidupku, menjadi sahabat hati dan hidupku hingga ajalku nanti?”
Kanaya menangis tak percaya. Ia terharu dengan perkataan Dani. Kepastiannya mengakhiri penantian Kanaya. Kanaya mengangguk mantap. Mereka terdiam kaku. Hanya senyuman dan tawa kecil yang terdengar. Dani menatap binar mata Kanaya, senyum lesung pipinya membuat Dani tak mampu menahan tangis bahagianya.
“Hatimu begitu tulus. Terima kasih telah setia menantiku. Maaf membuatmu lelah karena dipermainkan sang waktu,”
“Iya, Dani. Ketahuilah, cinta yang tulus tak akan pernah lelah meski harus menunggu hingga berteman dengan waktu dan tak akan bosan meski jarak yang sesaat membelenggu. Intinya adalah keikhlasan terhadap kehendak Tuhan, termasuk tentang cinta ini”
Dani tersenyum bahagia mendengarnya. Begitupun Kanaya. Ia sangat bahagia. Ketulusannya karena illahi membuatnya disatukan dengan cintanya.
Senja di padang ilalang pun terlihat sangat indah. Keduanya menikmati sisa senja dengan diiringi nyanyian penuh kesan romantis. Kebahagiaan kini tersemat pada senyum dan tawa Kanaya. Penatiannya telah berakhir karena kepastian cinta. Cinta dari Dani.
Duduk menatap sisa senja ditemani serangkaian melodi kenangan di padang ilalang. Lekuk pipinya kembali dilewati butiran air mata. Senyumnya masih tersemat manis. Ada sebaris kerinduan yang mendalam dari binar matanya. Hingga tatapan yang terpaku kokoh, seketika berkedip. Lelah menahan tangisnya yang menumpuk di pelupuk mata. Hatinya begitu sakit. Rindu yang menggema tak terapalkan, hanya tertahan di hatinya. Pertemuan tak ia dapat dalam nyata. Mungkin nanti, ketika Tuhan mengutus waktu untuk menyemaikan kerinduannya dalam pertemuan.
–
10 Oktober 2011
“Aku mencintaimu, Dani.” ucap Kanaya yang sempat ragu.
Sepasang mata menatapnya tak percaya. Nyaris kedua halisnya menyatu, mendengar pernyataan Kanaya. Sosok yang menatapnya lekat itu tak lain adalah Dani Wihandra, lelaki yang Kanaya cintai selama tiga tahun terakhir ini. Senyum khas perlahan tersemat di bibir Dani. Tatapan itu perlahan mengendur, hingga akhirnya menjauh dari hadapan Kanaya. Tak ada sebaris kalimat bahkan sepatah kata yang terapal dari mulut Dani. Hanya punggung Dani yang Kanaya lihat. Hingga perlahan menghilang dari pandangannya.
Kanaya berdiri mematung. Ia terdiam dalam kebisuannya. Hanya mata dan hatinya yang tak henti bekerja keras. Merasakan sakit hati dan rasa malu. Serta butir-butir kekecewaan jatuh secara bergantian. Hanya riuh teman-teman sekolahnya yang jelas terdengar di telinganya yang lambat laun terasa membeku, hingga seruan sahabatnya tak mampu terespon olehnya.
“Naya? Kau baik-baik saja?” seru Ranti menepuk bahu Kanaya dengan lembut.
“Eh, ya?” kejut Kanaya selang beberapa saat.
“Hei? Ada apa? Ayo gabung dengan yang lain. Ini kan acara perpisahan kita di SMA ini, kau tak mungkin menyia-nyiakan momen ini kan? Ayo?” ajak Ranti yang mulai mengamati sorot mata sahabatnya itu.
“Ah, sepertinya aku kurang enak badan. Aku harus cepat pulang, Ran,” balas Kanaya beralasan.
Tangan Ranti memegang erat pundak Kanaya. Ia mencermati mata yang mulai memerah itu. Sorot mata yang tak sanggup lagi menahan air mata. Satu pertanyaan pun mengalir dari mulut Ranti lewat lidahnya.
“Naya, jujur padaku. Kau tidak benar-benar menyatakan cinta pada Dani, kan?”
Kanaya melerai sentuhan di bahunya itu. Ia mengayunkan kakinya, melangkah menuju tempat yang jauh dari keramaian. Ia duduk di kursi yang tak jauh darinya. Kerlap-kerlip bintang menghiasi malam, bersama rembulan yang tak kalah menyala lewat biasnya. Jemari lentiknya mulai menyapu tetes air mata yang tak henti melaju dari sudut matanya.
“Kau tahu? Aku sangat terlihat bodoh saat berada di hadapannya,” tutur Kanaya pada Ranti yang duduk di sampingnya.
“Naya …” balas Ranti dengan tatapan sedih.
“Aku tak mengapa tak mendapat balasan darinya, tapi setidaknya aku mengerti arti dari senyumnya. Ia tak marah padaku. Mungkin aku akan kembali duduk dalam penantian dan berteman dengan waktu. Entah sampai kapan …” balasnya terdengar lemah.
“Naya, kau tunggu di sini. Aku akan mencari Dani dan menanyakan padanya tentang—” perkataan Ranti menggantung saat Kanaya menggenggam erat tangannya seraya menggelengkan kepala. “Kenapa?” lanjut Ranti heran.
Kanaya memeluk Ranti sebagai sandaran tangisnya. Pundak kiri Ranti mulai terasa basah. Air mata Kanaya membasahi kebaya Ranti di sekitar pundaknya. Ranti membalas pelukan itu. Mengusap punggung Kanaya, memberi kenyamanan atas kesedihan yang menimpa hati sahabatnya itu. Kanaya kembali pada posisinya semula. Ia kembali menghapus sisa air matanya. Sementara Ranti menatapnya penuh haru.
“Carilah pengganti Dani, aku tak mau melihat sahabatku terlalu lama dipermainkan waktu dalam penantian yang tak berujung ini. Kau pantas bahagia, kau pantas mendapatkan yang lebih dari Dani.”
“Tidak, Ran. Ketulusan cintaku tak akan kalah hanya karena permainan sang waktu yang kadang membuatku jatuh dalam rasa lelah. Dan bosan karena tak ada jawaban. Tiga tahun saja telah ku lewati, bila harus menanti tiga, empat bahkan lima tahun lagi, aku pasti mampu bertahan,”
“Tapi aku takut penantianmu ini sia-sia, Naya. Ayolah, sadar!”
“Dari mana aku tahu penantian ini sia-sia atau tidak, bila aku tak merasakan penantian ini secara utuh? Aku yakin dengan takdir dari Tuhan. Aku menantinya sampai saat ini, itu pasti sudah tertulis dalam suratan takdir. Tuhan tak akan membiarkan aku menjaga cinta ini, bila tak ada sebabnya. Aku tak akan membuka hati untuk yang lain, sampai Tuhan mempertemukanku dengan jodohku. Biarkan Dani yang sementara mengisi hati ini,”
Ranti memberi tatapan tak percaya. Bagaimana mungkin Kanaya mampu kembali menunggu Dani. Sebait pertanyaan menancap dalam benak Ranti atas jawaban sahabatnya itu.
“Apa yang membuatmu bertahan dalam penantian, Naya? Apa lebihnya Dani?” Tanya Ranti sedikit meninggikan suaranya.
Kanaya tersenyum menatap sahabatnya itu, hingga lesung pipi kirinya terlihat jelas. Hingga Ranti kembali berkata dengan argumennya.
“Coba kau lihat Rifky. Dia tampan, baik, dia juga mencintaimu, Naya. Kenapa kau memilih Dani? Aku tak habis pikir kau memilihnya,”
“Harta dan ketampanan hanyalah sebuah ilusi dan bersifat semu. Keduanya tak akan kekal. Tapi, agama. Dani membuatku bertahan karena agama. Dia sosok lelaki yang saleh. Setiap perkataannya dilandasi tentang agama. Itu yang membuat hatiku selalu bergetar. Dia berbeda dari lelaki kebanyakan,”
Ranti terdiam seakan takjub akan jawaban Kanaya. Jawaban yang mampu membuatnya bisu dalam obrolan. Perlahan air matanya terjatuh saat Kanaya memperlihatkan sebuh foto yang lusuh.
“Meski akhirnya jarak membuatku tak bisa bertemu dengannya, aku tak mengapa. Karena foto ini akan menjadi penawar rinduku. Bahkan meski air mata kerinduanku tumpah membasahi foto ini, senyum Dani tetap bisa ku lihat dalam ingatan.”
Malam itu menjadi saksi bisu atas curahan hati Kanaya tentang perasaanya pada Dani. Ia hanya mencintai Dani dalam diam selama duduk di bangku SMA. Kanaya begitu lihai menyembunyikan perasaannya hingga tak ada yang tahu bahwa ia mencintai Dani. Bahkan Ranti mengetahuinya karena ia tak sengaja membaca diari Kanaya. Hatinya mulai terkulum kesedihan. Bukan karena tak mendapat balasan, melainkan karena ia tak bisa melihat senyum Dani di setiap harinya kedepan. Tak akan ada lagi candaan yang ia dengar dari Dani, meski ia hanya mendengarnya dari kejauhan.
–
02 September 2015
Empat tahun sudah Kanaya duduk dalam penantian. Ia masih menyimpan cinta yang sama, cinta tulusnya pada Dani. Hingga kini ia duduk di padang ilalang dengan sebuah gitar yang setia menemaninya. Ia menatap senja penuh kerinduan. Kerinduan pada Dani.
Kesendiriannya tak menjadi sebuah kesedihan untuknya. Pekerjaannya sebagai seorang editor di sebuah situs menulis, menjadi pengisi hidupnya. Ribuan cerpen telah menemaninya beberapa tahun terakhir ini. Ia tetap tersenyum menapaki alur hidupnya. Ia menyerahkan kisah cintanya pada yang kuasa. Hatinya yakin, Tuhan akan memberikannya jawaban yang terbaik dari penantiannya.
“Dani, empat tahun sudah aku menantimu sejak hari itu. Hari di saat kau mendengar isi hatiku. Apa kau sudah bahagia di sana? Aku tahu cita-citamu tercapai. Aku bahagia mendengarnya. Andai Tuhan memberi jawaban dari penantian ini, apa aku harus bertahan atau menyerah pada keadaan?” Kanaya tertunduk memeluk gitarnya, mencurahkan isi hatinya lewat tiap tetesan air mata.
“Nyanyikan satu lagu untukku, Nona.” seru seseorang yang baru saja duduk di samping Kanaya.
“Maaf, aku sedang tak ingin menyanyi.” Jawab Kanaya.
Sejenak Kanaya terdiam. Ia menyadari kehadiran sosok yang duduk di sampingnya. Ia sangat hafal bahwa tak ada orang yang datang ke padang ilalang ini setiap sore, selain dirinya. Segera ia mengangkat kepala dan mengarahkan tatapan pada sosok yang mengganggu tangisannya.
Hatinya berdegup cepat. Air matanya kembali terurai. Namun senyum manisnya terlihat melengkapi. Kanaya menatap lekat-lekat sosok itu. Begitu ingin ia memeluknya, namun ia sadar akan kenyataan.
“Dani?” lirihnya.
“Ya, ini aku Dani. Ternyata kau masih mengenaliku.” Sahut Dani dengan menyuguhkan senyuman khasnya.
Kanaya menatap lekat mata Dani yang terhalang lensa berlapis itu. Sebuah kacamata yang begitu pas dipakainya. Kacamata yang menjadi ciri khasnya sejak SMA. Menambah karismanya.
“Aku mencarimu. Kata Ibumu, kau selau pergi ke padang ilalang dengan gitar kesayanganmu itu,”
Kanaya tersenyum bahagia. Baru kali ini ia dapat mendengar jelas suara Dani. Ia tak peduli jika ini hanya mimpi. Ia hanya bersyukur dapat melihat Dani.
“Kau mencariku? Untuk apa?”
“Untuk menjawab penantianmu,”
“Maksudmu?”
“Aku tahu selama ini kau menantiku dengan setia. Sejak kau menyatakan perasaanmu di acara perpisahan SMA, aku mulai mempertimbangkannya. Aku diam karena aku tak ingin memberi jawaban yang salah. Aku belum menjadi siapa-siapa, dalam arti jauh dari kata mapan. Aku baru memulai hidup. Dan sekarang aku tak akan membiarkanmu akhirnya tenggelam dalam penantian,”
Jantung Kanaya semakin berdegup cepat. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Perlahan ia mencubit punggung tangannya. Ia meringis sakit. Saat itu pula ia sadar, ini adalah kenyataaan.
“Naya. Biarkan aku akhiri penantianmu dengan sebuah kepastian,”
“Katakanlah dengan jujur. Sekalipun akhirnya itu menyakitkan,”
“Tentu. Alasanku membuatmu menanti, karena aku ingin memilikimu dalam ikatan yang suci. Saat Tuhan memberi petunjuknya lewat ibadahku, aku pun kini yakin, kaulah pilihanNya. Apa kau bersedia bersanding denganku, menjadi pelengkap hidupku, menjadi sahabat hati dan hidupku hingga ajalku nanti?”
Kanaya menangis tak percaya. Ia terharu dengan perkataan Dani. Kepastiannya mengakhiri penantian Kanaya. Kanaya mengangguk mantap. Mereka terdiam kaku. Hanya senyuman dan tawa kecil yang terdengar. Dani menatap binar mata Kanaya, senyum lesung pipinya membuat Dani tak mampu menahan tangis bahagianya.
“Hatimu begitu tulus. Terima kasih telah setia menantiku. Maaf membuatmu lelah karena dipermainkan sang waktu,”
“Iya, Dani. Ketahuilah, cinta yang tulus tak akan pernah lelah meski harus menunggu hingga berteman dengan waktu dan tak akan bosan meski jarak yang sesaat membelenggu. Intinya adalah keikhlasan terhadap kehendak Tuhan, termasuk tentang cinta ini”
Dani tersenyum bahagia mendengarnya. Begitupun Kanaya. Ia sangat bahagia. Ketulusannya karena illahi membuatnya disatukan dengan cintanya.
Senja di padang ilalang pun terlihat sangat indah. Keduanya menikmati sisa senja dengan diiringi nyanyian penuh kesan romantis. Kebahagiaan kini tersemat pada senyum dan tawa Kanaya. Penatiannya telah berakhir karena kepastian cinta. Cinta dari Dani.
TAMAT
Cerpen Karangan: Ersa Nazwa
kategori: Cerpen Cinta Romantis
Facebook: Ersa Nazwa
Sumber : http://www.cerpenmu.com
Editor : Ferlin
Siarlingkungan.com // Muara Sabak, Jambi - Dua dari empat orang pelaku perampokan yang beraksi pada 28 Agustus 2015 lalu di Kecamatan Geragai, berhasil ditangkap Polres Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Keduanya adalah Taming alias Aming, dan Syamsudin alias Acok.
Kasubag Humas Polres Tanjabtim, AKP Rodin Manalu, saat dikonfirmasi mengatakan, kedua pelaku terpaksa dilumpuhkan dengan tembakan. Selain berusaha melawan dan melarikan diri, pelaku juga memiliki senjata api (senpi) rakitan.
"Kedua pelaku berhasil diamankan dari kediaman masing-masing," ujar Manalu, Rabu (9/9).
Sebagaimana yang dilansir oleh Metrojambi, Dari penagkapan kedua pelaku polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa 1 unit sepeda motor Yamaha Jupiter MX hasil curian, sepucuk senpi rakitan jenis Revolver 5 silinder, serta 1 butir peluru bertuliskan PSD 8 4 warna kuning.
"Tersangka dan barang bukti telah di amankan di Polres Tanjabtim," pungkasnya. (Nanang Suratno)
Kasubag Humas Polres Tanjabtim, AKP Rodin Manalu, saat dikonfirmasi mengatakan, kedua pelaku terpaksa dilumpuhkan dengan tembakan. Selain berusaha melawan dan melarikan diri, pelaku juga memiliki senjata api (senpi) rakitan.
"Kedua pelaku berhasil diamankan dari kediaman masing-masing," ujar Manalu, Rabu (9/9).
Sebagaimana yang dilansir oleh Metrojambi, Dari penagkapan kedua pelaku polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa 1 unit sepeda motor Yamaha Jupiter MX hasil curian, sepucuk senpi rakitan jenis Revolver 5 silinder, serta 1 butir peluru bertuliskan PSD 8 4 warna kuning.
"Tersangka dan barang bukti telah di amankan di Polres Tanjabtim," pungkasnya. (Nanang Suratno)
_____
Editor:eni
Editor:eni
Siarlingkungan.com // KEFAMENANU, NTT - Tiga orang warga Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditangkap aparat kepolisian Sektor Biboki Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Mereka kedapatan bermain judi bola guling saat berada di rumah duka salah seorang warga Kampung Aibanoan, Kelurahan Boronubaen, Kecamatan Biboki Utara.
Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor TTU, Iptu Petrus Liu, Rabu (9/9/2015) pagi, mengatakan, tiga orang yang ditangkap tersebut yakni Marselinus Gomes (warga Motamaro, Desa Tasain, Kecamatan Raimanuk), Fridus Mau (warga Seo, Desa Rinbesihat, Kecamatan Tasifeto Barat), dan Andreas Kehi (warga Halimea, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat).
“Tadi malam di tempat orang meninggal di Kampung Aibanoan, Kelurahan Boronubaen, ada laporan dari masyarakat bahwa ada perjudian. Kepala Kepolisian Sektor Biboki Utara Ipda Anselmus Pera, bersama tiga anggotanya langsung turun ke tempat kejadian perkara, dan melakukan penggerebekan. Mereka menangkap tiga pelaku yang berperan sebagai bandar bola guling,” kata Petrus.
Saat digerebek, banyak warga yang ikut bermain judi. Namun mereka berhasil melarikan diri. Sementara, tiga bandar judi bola guling tersebut tidak bisa kabur. Polisi kemudian menyita sejumlah barang bukti, yakni tiga set meja; enam lembar layar pasang; water pas tiga buah; alas meja 12 set, tiga tas, tikar daun satu lembar; tikar karet satu lembar dan karung plastik satu 1 pasang, bola sebanyak 12 buah, kabel lampu dan balon lampu, serta uang masing-masing Rp 53.000 (milik Marselinus Gomes) Rp 1.277.000 (milik Fridus Mau), dan Rp 2.442.000 (milik Andreas Kehi).
“Saat ini para tersangka dan barang bukti sudah diamankan di markas Kepolisian Sek Biboki Utara, untuk diperiksa secara intensif. Ketiganya bakal dikenakan Pasal 303 tentang perjudian dengan ancaman hukumannya maksimal empat tahun,” kata dia. (Kontributor Kupang, Sigiranus Marutho Bere).
_____
Editor : Eni
Sumber : Kompas
Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor TTU, Iptu Petrus Liu, Rabu (9/9/2015) pagi, mengatakan, tiga orang yang ditangkap tersebut yakni Marselinus Gomes (warga Motamaro, Desa Tasain, Kecamatan Raimanuk), Fridus Mau (warga Seo, Desa Rinbesihat, Kecamatan Tasifeto Barat), dan Andreas Kehi (warga Halimea, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat).
“Tadi malam di tempat orang meninggal di Kampung Aibanoan, Kelurahan Boronubaen, ada laporan dari masyarakat bahwa ada perjudian. Kepala Kepolisian Sektor Biboki Utara Ipda Anselmus Pera, bersama tiga anggotanya langsung turun ke tempat kejadian perkara, dan melakukan penggerebekan. Mereka menangkap tiga pelaku yang berperan sebagai bandar bola guling,” kata Petrus.
Saat digerebek, banyak warga yang ikut bermain judi. Namun mereka berhasil melarikan diri. Sementara, tiga bandar judi bola guling tersebut tidak bisa kabur. Polisi kemudian menyita sejumlah barang bukti, yakni tiga set meja; enam lembar layar pasang; water pas tiga buah; alas meja 12 set, tiga tas, tikar daun satu lembar; tikar karet satu lembar dan karung plastik satu 1 pasang, bola sebanyak 12 buah, kabel lampu dan balon lampu, serta uang masing-masing Rp 53.000 (milik Marselinus Gomes) Rp 1.277.000 (milik Fridus Mau), dan Rp 2.442.000 (milik Andreas Kehi).
“Saat ini para tersangka dan barang bukti sudah diamankan di markas Kepolisian Sek Biboki Utara, untuk diperiksa secara intensif. Ketiganya bakal dikenakan Pasal 303 tentang perjudian dengan ancaman hukumannya maksimal empat tahun,” kata dia. (Kontributor Kupang, Sigiranus Marutho Bere).
_____
Editor : Eni
Sumber : Kompas
Sukabumi [Siarlingkungan] - Gempa yang berpusat di Garut, Jawa Barat, dengan kekuatan 5,6 Skala Richter juga dirasakan sebagian warga Sukabumi karena getarannya cukup kencang walaupun hanya beberapa detik.
"Astagfirullah gempa bumi," kata Yuyun Yuningsih warga Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi sambil berlari keluar rumah, Sabtu (5/9/2015)
Selain di daerah itu, gempa juga dirasakan warga Kota Sukabumi yang tinggal di Kecamatan Gunungpuyuh, Berani Nokiyansah yang mengaku panik saat gempa terjadi. Bahkan, seluruh penghuni rumah berhamburan keluar khawatir terjadi gempa susulan.
"Memang beberapa detik tapi kencang banget getarannya, ternyata tidak saya saja, keluarga dan tetangga pun merasakan gempa itu," kata Nokiyansah.
Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa yang berkekuatan 5,6 SR itu terjadi pada pukul 03.08 WIB dengan pusat gempa 109 km Barat Daya Garut di kedalaman episentrum gempa 10 km.
Hingga saat berita ini diturunkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) baik Kota maupun Kabupaten Sukabumi belum menerima adanya laporan terkait gempa Garut tersebut. (Ant/Ali/Nda)
Editor : Kelvin
Sumber : Liputan6
"Astagfirullah gempa bumi," kata Yuyun Yuningsih warga Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi sambil berlari keluar rumah, Sabtu (5/9/2015)
Selain di daerah itu, gempa juga dirasakan warga Kota Sukabumi yang tinggal di Kecamatan Gunungpuyuh, Berani Nokiyansah yang mengaku panik saat gempa terjadi. Bahkan, seluruh penghuni rumah berhamburan keluar khawatir terjadi gempa susulan.
"Memang beberapa detik tapi kencang banget getarannya, ternyata tidak saya saja, keluarga dan tetangga pun merasakan gempa itu," kata Nokiyansah.
Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa yang berkekuatan 5,6 SR itu terjadi pada pukul 03.08 WIB dengan pusat gempa 109 km Barat Daya Garut di kedalaman episentrum gempa 10 km.
Hingga saat berita ini diturunkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) baik Kota maupun Kabupaten Sukabumi belum menerima adanya laporan terkait gempa Garut tersebut. (Ant/Ali/Nda)
Editor : Kelvin
Sumber : Liputan6
Siarlingkungan.com // Selatpanjang, Riau - 6 Hektar lahan kebun sagu milik masyarakat Tebingtinggi Barat, Kepulauan Meranti, Riau, terbakar. Api diduga telah membakar lahan kebun itu sejak, Sabtu (29/8/2015) lalu.
Hal itu disampaikan Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Zahwani Pandra Arsyad SH MSi, melalui Kapolsek Tebingtinggi Barat Ipda Asril SSos, Senin (31/8/2015). Kata Asril, lokasi terbakar itu di Dusun Tanjungkatung Desa Tanjung Darul Takzim, Tebingtinggi Barat.
Dari 6 Ha itu, ada 4 pemilik kebun yang terbakar, diantaranya Amirudin dengan lahan yang terbakar lebih kurang 2 Ha. Masturo lahan yang tebakar lebih kurang 2 Ha, H Muklis lahan yang tebakar lebih kurang 1 ha, dan Mahmudin lahan yang terbakar lebih kurang 1 ha.
"Lahan kebun masyarakat yang berisi tanaman rumbia (sagu) diduga telah dua hari terbakar," kata Kapolsek Tebingtinggi Barat itu.
Sejauh ini asal api belum dapat diketahui. Di lapangan, kata Asril lagi, masyarakat dan masing-masing pemilik kebun masih melakukan pemadaman. Sebagian lagi, mencegah agar supaya api tidak merambat dan makin meluas. Pemadaman itu dilakukan dengan menggunakan peratan mesin robin sebayak 5 unit.
"Tadi kami melokalisir lokasi lahan bekas terbakar. Kita juga menghimbau kepada masyarakat agar menjaga kebun masing-masing," ujar Asril.
Adapun kendala saat pemadaman kata Asril antara lain, jauhnya menuju lokasi yang sedang terbakar dengan menggunakan pompong karena harus mengikuti air pasang surut. Jauhnya lokasi dari akses jalan, serta tidak ada sumber air di lokasi lahan yang terbakar.
"Sampai saat ini api sdh dapat dipadamkan namun masih mengeluarkan asap tebal," katanya pula.(zal).
_____
Editor : Kelvin
Sumber : goriau
Hal itu disampaikan Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Zahwani Pandra Arsyad SH MSi, melalui Kapolsek Tebingtinggi Barat Ipda Asril SSos, Senin (31/8/2015). Kata Asril, lokasi terbakar itu di Dusun Tanjungkatung Desa Tanjung Darul Takzim, Tebingtinggi Barat.
Dari 6 Ha itu, ada 4 pemilik kebun yang terbakar, diantaranya Amirudin dengan lahan yang terbakar lebih kurang 2 Ha. Masturo lahan yang tebakar lebih kurang 2 Ha, H Muklis lahan yang tebakar lebih kurang 1 ha, dan Mahmudin lahan yang terbakar lebih kurang 1 ha.
"Lahan kebun masyarakat yang berisi tanaman rumbia (sagu) diduga telah dua hari terbakar," kata Kapolsek Tebingtinggi Barat itu.
Sejauh ini asal api belum dapat diketahui. Di lapangan, kata Asril lagi, masyarakat dan masing-masing pemilik kebun masih melakukan pemadaman. Sebagian lagi, mencegah agar supaya api tidak merambat dan makin meluas. Pemadaman itu dilakukan dengan menggunakan peratan mesin robin sebayak 5 unit.
"Tadi kami melokalisir lokasi lahan bekas terbakar. Kita juga menghimbau kepada masyarakat agar menjaga kebun masing-masing," ujar Asril.
Adapun kendala saat pemadaman kata Asril antara lain, jauhnya menuju lokasi yang sedang terbakar dengan menggunakan pompong karena harus mengikuti air pasang surut. Jauhnya lokasi dari akses jalan, serta tidak ada sumber air di lokasi lahan yang terbakar.
"Sampai saat ini api sdh dapat dipadamkan namun masih mengeluarkan asap tebal," katanya pula.(zal).
_____
Editor : Kelvin
Sumber : goriau
Lampung [Siarlingkungan] - Empat pelaku pencurian dengan kekerasan yang menewaskan anggota Brimob Polda Lampung Bharada Jefri Saputra, berhasil dibekuk kepolisian, Minggu dinihari, 30 Agustus 2015.
Warga Kecamatan Jabung, Lampung Timur ini diamankan bersama barang bukti satu unit motor merek Yamaha Vixion milik anggota brimob yang tewas.
Para pelaku yakni, Romadon, Sudir, Agus dan Wansahril ditangkap atas kerja sama Polda Lampung dan Polsek Jabung dan dipimpin oleh Kasubdit III Direktorat Reskrimum Polda Lampung AKBP Ruliyandi serta Kanit Jatanras Kompol Heru.
"Semua pelaku berasal dari Jabung. Barang bukti milik korban motor Yamaha Vixion sudah diamankan," kata salah seorang anggota Polda Lampung saat dihubungi.
Kabid Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih mengaku belum menerima laporan soal penangkapan itu. "Saya belum terima laporan. Nanti kalau sudah ada laporannya saya kabarin," singkatnya.
Bharada Jefri Saputra tewas di tangan kawanan begal usai mengambil uang di ATM di Jalan Teuku Umar, Kedaton, Bandarlampung, Kamis malam, 27 Agustus 2015. Ia tewas di tempat kejadian setelah terkena tembakan sebanyak dua kali di dada sebelah kirinya. (Bayu Sulistyono/Lampung).
_____
Sumber : Viva
Sumber : Viva
Siarlingkungan.com // DURI, RIAU - Dinilai sudah meresahkan, mesin judi Jackpot atau Dingdong kembali ditertibkan jajaran Opsnal Polsek Mandau, Rabu (27/8/15) sekira pukul 17.00 WIB.Kali ini, barang bukti 3 unit mesin, koin, uang tunai dan pemiliknya berinisial BY (39) berhasil diamankan disalah satu warung di Jalan Kayangan, Gang Danau, Kelurahan Babussalam, Kecamatan Mandau, Bengkalis.
Hal tersebut dibenarkan Kapolsek Mandau, Kompol Hidayat Thayeb saat dikonfirmasi riauterkini.com, Jum'at (28/8/15). Dalam penggerebekan tersebut, pihaknya berhasil mengamankan barang bukti perjudian 303 diantaranya 3 unit mesin Jackpot Dingdong, 370 keping koin yang terletak didalam sebuah toples, 7 keping koin dari saksi pemain dan uang hasil penjualan berjumlah Rp 60 ribu.
" Awalnya kita menerima informasi dari masyarakat yang telah resah akan aksi judi mesin ini, setelah kita lakukan penyelidikan, ternyata benar dan langsung kita amankan," jelas Kapolsek.
Dikatakan Kapolsek, dalam memberantas penyakit masyarakat ini, pihaknya tidak pandang bulu siapa beking yang ada dibelakangnya. Siapa saja yang melakukan tindak pidana, ya kita sikat," tegasnya.***(hen).
_____
Editor : Kelvin
Sumber : riauterkini
Hal tersebut dibenarkan Kapolsek Mandau, Kompol Hidayat Thayeb saat dikonfirmasi riauterkini.com, Jum'at (28/8/15). Dalam penggerebekan tersebut, pihaknya berhasil mengamankan barang bukti perjudian 303 diantaranya 3 unit mesin Jackpot Dingdong, 370 keping koin yang terletak didalam sebuah toples, 7 keping koin dari saksi pemain dan uang hasil penjualan berjumlah Rp 60 ribu.
" Awalnya kita menerima informasi dari masyarakat yang telah resah akan aksi judi mesin ini, setelah kita lakukan penyelidikan, ternyata benar dan langsung kita amankan," jelas Kapolsek.
Dikatakan Kapolsek, dalam memberantas penyakit masyarakat ini, pihaknya tidak pandang bulu siapa beking yang ada dibelakangnya. Siapa saja yang melakukan tindak pidana, ya kita sikat," tegasnya.***(hen).
_____
Editor : Kelvin
Sumber : riauterkini
Siarlingkungan.com // Banyuwangi - Seorang bandar judi online yang masuk jaringan bisnis judi online besar asal Bali, berinisial EW berhasil diringkus Polres Banyuwangi.
Untuk melancarkan aksinya EW bekerjasama dengan UH, dalam sebulan omset bisnis judi yang berhasil mereka kumpulkan berjumlah Rp 100 juta lebih.
Kasus cyber crime ini akan diusut tuntas Polres Banyuwangi yang bekerjasama dengan Polda Jatim.
Kapolres Banyuwangi, AKBP Bastoni Purnama mengungkapkan, dua pelaku judi warga Kelurahan Sumberejo ini ditangkap di dua lokasi berbeda. UW diamankan di rumahnya saat menunggu nomor yang akan keluar, sementara EW diciduk polisi di gubuk kawasan Kecamatan Kalipuro.
Keduanya kini diamankan di Polres Banyuwangi berikut sejumlah barang bukti, seperti buku rekapan togel, 3 HP, slip transfer BCA, laptop, modem serta uang tunai 225 ribu.
"Bisnis judi online yang ikut dikendalikan bandar besar asal Bali ini sudah beroperasi sejak lama di Banyuwangi. Omsetnya per minggu bisa mencapai Rp 25 juta, sebulan bisa ratusan juta. Kedepan kita usut dengan unit cyber crime Polda Jatim," ungkap mantan Kapolres Tulungagung saat rilis di Mapolres Banyuwangi, Jumat (28/8/2015).
Dalam aksinya, sambung Bastoni, UH yang berperan menerima titipan dari pembeli melalui SMS lalu direkap dan disetor ke EW. Untuk pembagian hasil UH berhak menerima prosentase 30 persen dari setiap setoran. Sementara peran EW yaitu meneruskan setoran ke E yang merupakan bandar judi online besar asal Bali. Tak hanya disetor pada E, EW secara mandiri juga memasukkan setorannya ke situs judi online totojitu.
"Dari pengakuan EW tiap kali transaksi, dia dapat prosentase 35 persen dari E dan 29 persen dari online," imbuhnya.
Selain dua pelaku judi online tersebut, polisi juga mengamankan juga mengamankan tiga pelaku judi togel di wilayah Kabat dan Kalipuro. Tiga pelaku ini antara lain, B (63) warga Desa Sukojati, bertindak sebagai pengecer dengan omset harian Rp 300 ribu, S (54), warga Desa Dadapan pengecer togel beromset Rp 1,5 juta dan MS selaku pengepul yang bermukim di Perumahan Klatak B1, Kelurahan Klatak.
Sementara itu, MS dan EW mengaku mereka menggeluti bisnis judi togel ini lantaran terhimpit kebutuhan ekonomi yang melambung tinggi. Selain itu mereka yang mengaku pengangguran ini juga menyatakan jika tak miliki modal atau ketrampilan serta bakat untuk berwirausaha. Pendidikan minim disertai desakan ekonomi menjadi pelecut mereka untuk terus jalani bisnis haram tersebut.
"Saya pengangguran, ya gimana ga ada kerjaan lagi. Ga ada modal dan ga punya keterampilan, sementara perlu uang untuk biaya kebutuhan sehari hari," pungkas MS lirih.
_____
Untuk melancarkan aksinya EW bekerjasama dengan UH, dalam sebulan omset bisnis judi yang berhasil mereka kumpulkan berjumlah Rp 100 juta lebih.
Kasus cyber crime ini akan diusut tuntas Polres Banyuwangi yang bekerjasama dengan Polda Jatim.
Kapolres Banyuwangi, AKBP Bastoni Purnama mengungkapkan, dua pelaku judi warga Kelurahan Sumberejo ini ditangkap di dua lokasi berbeda. UW diamankan di rumahnya saat menunggu nomor yang akan keluar, sementara EW diciduk polisi di gubuk kawasan Kecamatan Kalipuro.
Keduanya kini diamankan di Polres Banyuwangi berikut sejumlah barang bukti, seperti buku rekapan togel, 3 HP, slip transfer BCA, laptop, modem serta uang tunai 225 ribu.
"Bisnis judi online yang ikut dikendalikan bandar besar asal Bali ini sudah beroperasi sejak lama di Banyuwangi. Omsetnya per minggu bisa mencapai Rp 25 juta, sebulan bisa ratusan juta. Kedepan kita usut dengan unit cyber crime Polda Jatim," ungkap mantan Kapolres Tulungagung saat rilis di Mapolres Banyuwangi, Jumat (28/8/2015).
Dalam aksinya, sambung Bastoni, UH yang berperan menerima titipan dari pembeli melalui SMS lalu direkap dan disetor ke EW. Untuk pembagian hasil UH berhak menerima prosentase 30 persen dari setiap setoran. Sementara peran EW yaitu meneruskan setoran ke E yang merupakan bandar judi online besar asal Bali. Tak hanya disetor pada E, EW secara mandiri juga memasukkan setorannya ke situs judi online totojitu.
"Dari pengakuan EW tiap kali transaksi, dia dapat prosentase 35 persen dari E dan 29 persen dari online," imbuhnya.
Selain dua pelaku judi online tersebut, polisi juga mengamankan juga mengamankan tiga pelaku judi togel di wilayah Kabat dan Kalipuro. Tiga pelaku ini antara lain, B (63) warga Desa Sukojati, bertindak sebagai pengecer dengan omset harian Rp 300 ribu, S (54), warga Desa Dadapan pengecer togel beromset Rp 1,5 juta dan MS selaku pengepul yang bermukim di Perumahan Klatak B1, Kelurahan Klatak.
Sementara itu, MS dan EW mengaku mereka menggeluti bisnis judi togel ini lantaran terhimpit kebutuhan ekonomi yang melambung tinggi. Selain itu mereka yang mengaku pengangguran ini juga menyatakan jika tak miliki modal atau ketrampilan serta bakat untuk berwirausaha. Pendidikan minim disertai desakan ekonomi menjadi pelecut mereka untuk terus jalani bisnis haram tersebut.
"Saya pengangguran, ya gimana ga ada kerjaan lagi. Ga ada modal dan ga punya keterampilan, sementara perlu uang untuk biaya kebutuhan sehari hari," pungkas MS lirih.
_____
Editor : Eni
Sumber : detikcom
Sumber : detikcom
Jakarta [Siarlingkungan] - Jajaran tim gabungan Resmob Polda Lampung dan Sat Reskrim Polres Lampung Selatan menangkap empat begal sadis di Tanjung Bintang, Lampung Selatan, Lampung, Kamis (27/8/2015). Keempat begal ini kerap meresahkan warga dengan aksinya mencuri motor dan melukai pemiliknya.
Kasat Reskrim Lampung Selatan AKP Rosef Effendi mengatakan keempat begal tersebut yakni Nur Rohim bin Sodik (19), Ando Prabowo bin Kasino (19), Bagus Budi Jayanto bin Paring Ahmad (18), Giyarto bin Saiful Mujab (21), dan Edi Effendi bin Mat Sul (21) sebagai penadah. Penangkapan ini bermula dari laporan masyarakat yang kehilangan motor pada Sabtu (26/7/2015) sekitar pukul 09.00 WIB di Pasar Berhen, Tanjung Sari, Lampung Selatan.
"Pelaku Nur Rohim dan rekan-rekannya melakukan tindakan ranmor terhadap 1 motor Yamaha Jupiter yang sedang terparkir dengan merusak kunci sepeda motor dengan kunci T," ujar Rosef, Kamis (27/8/2015).
Usai melakukan aksinya, keempat pelaku ini membawa kendaraan hasil curian ke Kebun Karet dan dijual kepada Edi Efendi. Motor tersebut terjual Rp 1,7 juta.
"Setelah melakukan penyelidikan, diketahui pelaku kerap melakukan aksi begal di daerah Lampung Selatan. Polisi pun melakukan penangkapan di Tanjung Bintang, Lampung Selatan," terangnya.
Dari penangkapan tersebut, polisi menyita barang bukti berupa 1 lembar STNK sepeda motor Yamaha Jupiter Z nomor polisi palsu BE 4349 YC dengan nomor rangka MH330C0028J307711 atas nama Devi Nardiah. Serta satu unit sepeda motor Yamaha Jupiter Z nomor polisi palsu BE 7192 EI dan 1 senjata tajam. (tfn/dha)
_____
Sumber : detikcom
Sumber : detikcom
Siarlingkungan.com // Pekanbaru - Seorang wanita berumur 19 tahun, warga Jalan Taskurun, Kelurahan Tangkerang Tengah, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru, Riau, diperkosa dan dianiaya di dalam hotel Sabrina. Modusnya pelaku mengajak korban masuk ke kamar untuk keperluan interview.
Informasi yang dirangkum di Mapolresta Pekanbaru, Selasa (25/8/2015) pagi, kasus pemerkosaan disertai pengancaman itu sudah dilaporkan korban bernama Juni (19), Senin malam lalu, sekitar pukul 21.00 WIB. Ia tak menduga, niat Juni untuk mencari kerja malah berujung pemerkosaan. Dia tak berani melawan karena pelaku mengancam dengan menggunakan pisau.
Pelaku dikenal korban dengan nama Ari Alia Yudi. Korban mengenal Ari dari rekan sekerjanya. Rekannya itu mengatakan kalau Ari bisa memasukkan korban untuk bekerja di Hotel Sabrina, Pekanbaru. Tertarik dengan tawaran itu, Juni pun minta agar ia dikenalkan dengan Ari.
Singkat cerita, Senin pagi korban dengan ditemani rekannya pergi menjumpai pelaku di Jalan Harapan Raya. Bertiga mereka sempat terlibat perbincangan, sebelum akhirnya bergeser ke Hotel Sabrina. Alasan pelaku, bahwa bosnya sudah menunggu di sana untuk interview.
Korban pun digiring ke sebuah kamar di lantai tiga. Di dalam kamar Ari langsung mengeluarkan pisau dan mengancam Juni agar mau melayaninya. Takut dilukai, Juni pun terpaksa jadi objek pelampiasan nafsu Ari. Bahkan ia sempat diikat agar tidak meronta atau berusaha melarikan diri.
Setelah puas, Ari lalu meninggalkan korban di dalam kamar, dengan kondisi bugil. "Kita sudah menerima laporan korban semalam, selain itu polisi juga sudah kantongi identitas pelaku untuk selanjutnya dilakukan penyelidikan," ujar Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, AKP Bimo Arianto, Selasa (25/8/2015). (Had).
Informasi yang dirangkum di Mapolresta Pekanbaru, Selasa (25/8/2015) pagi, kasus pemerkosaan disertai pengancaman itu sudah dilaporkan korban bernama Juni (19), Senin malam lalu, sekitar pukul 21.00 WIB. Ia tak menduga, niat Juni untuk mencari kerja malah berujung pemerkosaan. Dia tak berani melawan karena pelaku mengancam dengan menggunakan pisau.
Pelaku dikenal korban dengan nama Ari Alia Yudi. Korban mengenal Ari dari rekan sekerjanya. Rekannya itu mengatakan kalau Ari bisa memasukkan korban untuk bekerja di Hotel Sabrina, Pekanbaru. Tertarik dengan tawaran itu, Juni pun minta agar ia dikenalkan dengan Ari.
Singkat cerita, Senin pagi korban dengan ditemani rekannya pergi menjumpai pelaku di Jalan Harapan Raya. Bertiga mereka sempat terlibat perbincangan, sebelum akhirnya bergeser ke Hotel Sabrina. Alasan pelaku, bahwa bosnya sudah menunggu di sana untuk interview.
Korban pun digiring ke sebuah kamar di lantai tiga. Di dalam kamar Ari langsung mengeluarkan pisau dan mengancam Juni agar mau melayaninya. Takut dilukai, Juni pun terpaksa jadi objek pelampiasan nafsu Ari. Bahkan ia sempat diikat agar tidak meronta atau berusaha melarikan diri.
Setelah puas, Ari lalu meninggalkan korban di dalam kamar, dengan kondisi bugil. "Kita sudah menerima laporan korban semalam, selain itu polisi juga sudah kantongi identitas pelaku untuk selanjutnya dilakukan penyelidikan," ujar Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, AKP Bimo Arianto, Selasa (25/8/2015). (Had).
_____
Editor : Kelvin
Sumber : GORIAU.

